Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH


Blog EntryDec 13, '11 4:55 AM
for everyone
Sabtu kemarin, akhirnya saya mencapai usia perak. Tak terasa sudah setua ini (bener kan, "when you pass 25, you'll start feeling old").

Lalu apa refleksi hari milad saya tahun ini? Well, ada tiga hal yang bisa kucatat: keluarga, investasi, dan teman.

Hari ini kuawali dengan berangkat bersama kedua orang tua melihat perumahan di Griya Melati dekat Terminal Bubulak. Perumahan tersebut merupakan komplek kecil yang hanya terdiri atas 50-an rumah. Really, a cozy place to live ^^

Setelah itu, kami bertolak menuju Botani Square. Si mamah udah tiga minggu ini ngidam pengen nonton Breaking Dawn Part 1, itu lho film yang dibuat berdasarkan buku Twilight series karya Stephanie Mayer tentang kisah cinta Bella Swan dan si vampir tampan Edward Cullen. Sementara Bapak seperti biasa pergi ke Gramedia buat lihat buku. Sebelum nonton, kami bertiga makan siang dulu di food court lantai 3, makan masakan Manado. Tak perlu perayaan meriah dan makanan mahal, cukup bisa makan bersama kedua orang tua seperti ini (pengennya sih bareng adik-adik juga, tapi pada sekolah sih).

Usai menonton, saya pergi duluan untuk bertemu Ricky, teman SMA dan kuliah. Kami sudah janjian beberapa hari sebelumnya untuk pergi ke agen dinar di Baranangsiang Indah. Well, 25 with no luggage yet...then what are you waiting for? Start investing my dear...

Sorenya saya dan Ricky ke Botani Square lagi untuk bertemu Gina dan makan di Ichiban Sushi :). Ba'da Magrib, kami berpisah. Saya dan Gina melanjutkan ke Kafe Telapak dekat Pool Bis Damri untuk bertemu anak-anak Labil (which is teman-teman SMA juga ;p).

And this is the surprise... ternyata anak-anak Labil udah nyiapin kue ultah buat saya dan Ami (yang juga ultah bulan Desember). Saya ga pernah dapat surprise kayak gini, jadi kaget aja. Sampai datar mukanya hehe...Kemudian kami berbincang-bincang karena sudah lama tidak berkumpul seperti ini, sejak ada seorang teman yang sakit. Senang sekali bisa mendapat update kabar terbaru tentang teman yang sakit tersebut (alhamdulillah, sudah semakin baik). Selain itu, ada sharing dari seorang kawan yang sedang diberi ujian berat. Di tengah suasana seperti ini, saya kembali disadarkan bahwa saya memiliki kawan-kawan yang sangat care dan tidak akan pernah membiarkan kawannya sendiri. Seberat apapun masalah yang dihadapi, mereka akan selalu memberi dukungan dalam bentuk apapun, walau hanya sekedar senyum atau bertanya kabar. Persahabatan itu indah bukan

You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there, yeah, yeah, yeah.
You've got a friend
(You've Got A Friend - McFly)








ReviewReviewReviewFeb 10, '11 11:09 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Romance
Author:Ifa Avianty
Entah kesambet apa saya kemarin hingga membeli dua novel karya Ifa Avianty dan habis membaca keduanya hanya dalam waktu semalam. Dua novel yang sama-sama bergenre romance tetapi ditulis dengan gaya yang sangat berbeda. Novel pertama berjudul Facebook on Love ditulis dengan gaya bahasa ringan dan cenderung ngocol, sedangkan novel kedua yang berjudul Love in Rainy Days ditulis dengan gaya bahasa lebih serius, dewasa, dan sangat menyentuh. Sungguh saya sangat kagum dengan mbak Ifa yang bisa menulis dengan gaya berbeda. Ada beberapa penulis terkenal di negeri ini dan mancanegara yang buku-bukunya memiliki gaya penulisan yang sama dan plot yang mirip sehingga lama-kelamaam saya malas untuk membaca buku-buku baru dari penulis-penulis itu.

Untuk review kali ini, saya hanya akan membahas novel kedua karena saya sangat terlarut dengan kisahnya (hingga mengorbankan waktu tidur saya semalam. Kutu buku macam apa coba yang baca buku semalam suntuk sampai waktu subuh tiba?).

Saat menemukan novel ini di rak buku rekomendasi di Gramedia Matraman, saya agak ragu untuk membelinya. Membaca sinospsis cerita di cover belakangnya, kok sepertinya novel ini akan membahas masalah komitmen dalam pernikahan. Rasanya saya sudah cukup membaca tentang komitmen dalam Test Pack-nya Ninit Yunita, walau saya yakin melihat track record-nya mbak Ifa, novel ini akan ditulis dengan gaya yang lebih halus daripada Test Pack. Akhirnya hanya karena penulisnya adalah Ifa Avianty dan judulnya mengandung kata ‘rainy’ (karena saya orang Bogor dan sangat menyukai hujan), saya pun memutuskan membeli novel ini. And it turned out that I don’t regret it, I got hooked up all night :).

Love in Rainy Days menceritakan tentang kehidupan rumah tangga Zita dan Indra yang sudah berusia sepuluh tahun tetapi belum dikaruniai anak. Mereka tetap hidup bahagia, akan tetapi badai datang dalam wujud Mama Asti, ibu tiri Indra, yang berusaha memisahkan mereka dengan berbagai macam cara.

Tetapi apakah Mama Asti sanggup memisahkan mereka berdua yang ikatan cintanya sudah tertanam begitu kuat? Zita dan Indra bukan baru bertemu sepuluh tahun yang lalu. Mereka adalah sepasang sahabat sejak TK (so sweet banget kan, kisah cinta dari childhood friendship tuh emang ga ada matinya. Saya ga pernah bosen bacanya ^^, malah geregetan. Sayang, di dunia nyata kayaknya susah banget ya bisa begitu. Eh, tapi kata penulisnya cerita ini based on true story lho, so.... ). Walaupun begitu, selama 25 tahun bersahabat, tak pernah ada pernyataan cinta di antara mereka. Mereka tetap menjaga hubungan sebagai sepasang sahabat. Bukannya mereka tak menyadari. Indra sudah menyimpan perasaan pada Zita sejak berusia 10 tahun, sejak memasuki puber. Tapi dia tak berani menyatakannya pada Zita karena takut kehilangan Zita. Sementara Zita setiap kali terbersit perasaan melebihi sahabat kepada Indra, dia pun langsung menepis pikiran-pikiran itu. Keduanya baru saling menemukan apa yang luput mereka perhatikan dari persahabatan mereka setelah lulus S2, di usia 30 tahun, dan langsung menikah beberapa bulan setelahnya.

Sungguh sulit memisahkan pasangan yang memiliki sejarah sekian lama. Akan tetapi, badai besar itu rupanya tak dapat ditahan lagi. Zita akhirnya mengetahui rahasia keluarga Syahrazad, keluarga besar Indra, yang melibatkan Mama Asti dan Indra. Tak tahan mendengar rahasia itu dan pertengkaran hebat dengan Mama Asti membuat Zita pergi dari rumah. Indra pun langsung kalang kabut mencari Zita yang bagai raib ditelan bumi.

Akankah Zita dan Indra dipersatukan kembali? Ada apa antara Mama Asti dan Indra? Mengapa Mama Asti sampai harus berobat ke psikiater? Apalagi rahasia keluarga Syahrazad yang tidak diketahui Indra dan keenam adiknya?

Ifa Avianty meramu kisah ini dengan sangat apik. Alur cerita yang maju mundur dan dituturkan dengan dua sudut pandang, sudut pandang orang pertama dari berbagai tokoh cerita secara bergantian dan sudut pandang orang ketiga. Terkesan membingungkan bukan, tetapi Ifa mampu menuliskannya dengan sangat rapi hingga cerita terkesan sangat mengalir.

Bagi saya ada dua hal yang menarik dari novel ini. Pertama, pada beberapa bagian bahasanya sangat puitis dan penuh perasaan, sampai saya tidak tahan membacanya.

Apakah yang bisa kukatakan tentang rindu?
Ketika seluruh musim telah berubah menjadi hujan, di mana aku menemukan lukisan wajah kita di mana-mana, bersama setiap tetesan air yang jatuh ke bumi. Aku menamainya rindu tak terkira.
Ketika seluruh nada di alam ini telah berubah menjadi seruan lirih yang menciptakan perih di dasar hati, sebab ternyata hanya kita berdua yang terperangkap dalam perih itu. Aku menamainya rindu tak terlerai. (h. 256)

Kedua, pembahasan tentang Tuhan. Ifa menuliskannya dengan sederhana, tetapi maknanya sangat mendalam.

...bahwa Tuhan selalu berjalan bersamaku. Di depanku, ketika aku butuh petunjuk. Di sampingku, ketika aku butuh teman. Dan di belakangku, ketika aku butuh keberanian. (h. 238)

Ifa sendiri dalam pengantarnya menyatakan novel ini agak ‘keluar dari mainstream’. Ada tiga alasan yang membuat Ifa menyatakan demikian. Pertama, karena novel ini menyoroti fenomena keluarga multiagama di perkotaan yang diwakili oleh keluarga Indra dan Zita. Kedua orang tua mereka berbeda agama, Zita sendiri awalnya beragama Katolik mengikuti ibunya dan baru memeluk Islam di akhir masa kuliah S1. Kedua, karena novel ini bercerita tentang konflik kejiwaan akibat kurangnya kasih sayang dalam keluarga dan pemahaman etika pergaulan yang salah. Hal ini diwakili oleh hubungan Mama Asti dan Indra. Ketiga, novel ini menyoroti fenomena TTM yang diwakili oleh kisah persahabatan Zita dan Indra.

Jadi, bagi Anda yang menyukai cerita-cerita romance dengan latar belakang childhood friendship atau hanya sekedar mencari bacaan ringan dengan tema agak berat, rasanya novel ini pantas Anda masukkan dalam daftar bacaan Anda.

Kamar kos, 10 Februari 2011, menjelang Isya


Blog EntryJan 29, '11 2:46 AM
for everyone
From a seminar I attended two months ago, one of the speakers gave five advices on how to obtain a longer and better life. The advices are:

1. Do some exercises or physical activities at least 30 minutes everyday.
2. Eat three portions of vegetables everyday.
3. Eat three portions of fruits everyday.
4. Avoid smoking and drinking alcohol.
5. Have a spouse, friends or relatives to share our thoughts.

I think many of you oftenly hear advices no. 1-4. They are the advices to make you stay healthy physically. As we know, healthy is not only the matter of physical well-being but also psychological and socia
l well-being. There comes the fifth advice.

Several weeks ago, my mum told me that it’s important to have spouse because if you didn’t have, you wouldn’t have a life. My mum gave an example about her friend. She had an unmarried friend. This friend till now doesn’t have a house, he lives in a rent house. After work, he just go home and stay alone. Hmm...what a boring life. I think my mum’s friend don’t mingle around (in Bahasa: ga gaul). Remember, the fifth advice said OR friends OR relatives! So, as long as I have them, I’ll be happy enough with my life. But I know someday, they will find their partner  ̶  some already have  ̶  and they won’t have so much times to spend with me and their friends. So, I consider it is really important to find my own partner, but not to rush it .

Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Ahmad Fuadi
Buku kedua dari trilogi “Negeri 5 Menara” ini merupakan salah satu buku yang ditunggu-tunggu oleh para pecinta buku tanah air. Buku ini mengisahkan kehidupan Alif setelah tamat dari Pondok Madani (PM). Alif pulang ke kampung halamannya di tepi Danau Maninjau dengan segudang impian, ia ingin kuliah di ITB, menjadi Habibie, kemudian pergi ke Amerika.

Setiap orang yang sedang berusaha keras untuk meraih impiannya, selalu bertemu rintangan untuk menguji apakah dia benar-benar layak mendapatkan impian tersebut. Alif pun mengalami banyak rintangan. Ujian pertama yang harus dihadapinya adalah ujian persamaan SMA. Alif tidak memiliki ijazah SMA karena PM tidak mengeluarkan ijazah SMA dan ijazah ini adalah syarat mutlak agar dia dapat mendaftar UMPTN. Selain ujian, Alif juga harus menghadapi teman-teman di kampungnya yang meragukan Alif bisa lulus ujian persamaan dan UMPTN. Ah, bukankah akan selalu ada orang-orang yang menyangsikan impian-impian kita karena menurut mereka impian itu terlalu tinggi dan mustahil diraih.

Walaupun begitu, Alif tetap bersemangat belajar. Dengan mengaplikasikan prinsip man jadda wajada ̶ siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses ̶ yang ia dapatkan dari PM, ditambah inspirasi semangat tim dinamit Denmark (juara Piala Eropa tahun 1992 padahal hanya diundang sebagai tim pengganti), serta dengan berpikir realistis Alif berhasil lulus ujian persamaan dan diterima di jurusan Hubungan Internasional UNPAD.

Rupanya sukses ini bukan akhir dari segalanya. Rintangan lain terus datang silih berganti, mulai dari kiriman uang dari kampung yang seringkali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membuatnya harus bekerja paruh waktu, musibah yang menimpa keluarganya, hingga musibah penyakit yang menimpa dirinya sendiri. Puncaknya, Alif tak tahan lagi dan mulai mempertanyakan sampai kapan dia harus menghadapi cobaan-cobaan itu. Mengapa walaupun sudah berusaha keras, alih-alih mendapatkan apa yang dia harapkan, bahkan ia tak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri? Mengapa ada orang seperti sahabatnya, Randai, kaya, diterima di fakultas yang dia impikan, tak pernah terlihat belajar serius, tetapi selalu mendapat nilai bagus dan segala yang dia inginkan? Hampir saja Alif menyerah.

Syukurlah, kesadaran itu datang saat ia sedang terbaring lemah akibat penyakit tifus. Resep sukses itu bukan hanya man jadda wajada, Alif melupakan lanjutan syair tersebut: man shabara zhafira ̶ siapa yang bersabar akan beruntung.

“Tenyata ada jarak antara usaha keras dan hasil yang diinginkan. Jarak itu bisa sejengkal, tapi jarak itu bisa seperti ribuan kilometer. Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati. Dengan sebuah kesabaran. Dengan sebongkah keikhlasan.” (h. 135)

Begitu ia mulai mempraktekkan ‘mantra’ kedua ini, keberuntungan-keberuntungan pun terus datang. Artikel-artikel Alif mulai dimuat di koran lokal ̶ tentunya setelah mendapat pelatihan keras menulis artikel dari seorang senior di kampus ̶ dan dia pun tak perlu meminta kiriman uang lagi dari Amaknya di kampung. Jalan Alif pun semakin terbuka. Keberuntungan terbesarnya pun datang: beasiswa pertukaran pelajar ke Kanada, Benua Amerika, tanah impiannya.

Bagaimanakah kehidupan Alif di Kanada? Silakan baca selengkapnya di buku karya Ahmad Fuadi ini. Bersiap-siaplah untuk menangis dan tertawa. Banyak sekali adegan mengharukan yang akan membuat Anda banjir air mata. Tetapi banyak pula adegan mengharukan nan konyol yang membuat Anda menangis sambil tertawa.

Bersiaplah untuk memperoleh pencerahan. Begitu banyak petuah dan pelajaran kehidupan di dalamnya. Tentang ilmu ikhlas dan ilmu sabar. Tentang impian. Tentang ilmu meminjam: “Jangan pernah meremehkan barang pinjaman”. Tentang bakti pada orang tua dan persahabatan. Tentang nasionalisme yang selalu hadir sangat kuat dalam diri kita saat berada jauh dari tanah air.

Bersiaplah untuk menjelajahi tiga negara bersama Alif: Indonesia (Danau Maninjau, Bandung, dan Cibubur), Yordania (Amman), dan Kanada (Montreal dan Quebec). Judul buku ini memang mencerminkan setting cerita yang berputar di ketiga negara berbeda budaya tersebut. Rasakan keindahan Danau Maninjau dan lezatnya ikan yang menghuni danau tersebut. Rasakan sejuknya Bandung (ingat ya, ini Bandung di awal tahun 1990-an). Rasakan udara Timur Tengah, semilir angin padang pasir, dan sensasi melancong ke abad pertama di Yordania. Dan tentu saja, rasakan indahnya daun-daun maple, udara dingin yang menusuk tulang, dan salju putih bersih di Kanada.

Tampaknya, saya sudah bercerita terlalu banyak. Segeralah ke toko buku dan membeli buku ini (ah, saya dibayar berapa sih buat promosi?) atau carilah teman yang sudah memilikinya dan pinjamlah (tapi ingat ya, jangan sampai hilang atau rusak. Ingat ilmu meminjam). Dan bagi yang berada di belahan lain bumi ini, entah di utara, selatan, timur, dan barat dan belum dapat membacanya (karena ongkos kirim terlalu mahal), bersabarlah sesuai pesan yang diusung sepanjang buku ini: man shabara zhafira.

*dedicated to my best friend, Nur Hasanah yang sedang berjuang di Negeri Sakura. Semoga dapat memuaskan sedikit rasa penasaranmu :)


Blog EntryJan 28, '11 9:37 PM
for everyone
"Wah, mbak Karin selera lagunya mirip saya ya," demikian kata Bu Susi, seorang dosen dari Semarang yang saya temui saat postgraduate training minggu lalu. Saat itu kami sedang mengerjakan tugas kelompok dan saya memutar lagu This I Promise You-nya N'sync di notebook.

Tentu saja saya heran dengan komentar ibu ini. Bagaimana tidak, Bu Susi ini saya taksir usianya tak jauh berbeda dengan ibu saya. Anaknya yang paling tua saja sudah kuliah, paling 2-3 tahun lebih muda daripada saya. Sementara boyband yang lagunya saya putar itu kan populernya tahun 90-an yang bisa dibilang memang zamannya saya. Kalau ibu ini, lagu-lagunya 'mestinya' (asumsi saya) ya, tahun 70-an atau 80-an lah -- seperti kedua orang tua saya.

"Bu, mestinya saya yang heran, kok selera ibu sama seperti saya? Ini kan lagunya zaman saya, waktu saya SD-SMP," jawab saya.

"Saya juga suka lagu-lagu ini. Anak-anak saya sering mutar. Memang enak didengar. Yah, dengerin lagu anak muda kan jadi berasa muda," Bu Susi menjawab sambil tersenyum. Lalu dia menyebutkan Westlife dan Backstreet Boys merupakan salah satu band kesukaannya.

Ah, tapi apa benar musik memiliki zamannya masing-masing? Apakah setiap generasi memiliki musiknya masing-masing? Mungkin yang ada adalah trend. Seperti tahun90-an yang dihiasi boyband dan sekarang yang populer adalah Justin Bieber dan SM*SH (haha saya bukan pengamat musik, sotoy aja ini mah).

Saya pun teringat waktu zamannya Westlife lagi populer, yang borong kasetnya di toko bukan saya, tetapi ayah saya. Kasirnya sampai bertanya, "Pak, beli buat anaknya ya?".

"Bukan, buat saya sendiri," jawab ayah saya.

Kasir itu pun menatap ayah saya dengan pandangan tak percaya. Mungkin pikirnya, biasanya cewek-cewek ABG yang beli kaset itu, bapak-bapak ini kok beli juga.

Saya pun menyukai lagu-lagu zaman ayah ibu saya yang easy listening. Mungkin karena sejak kecil telinga ini sudah dibiasakan mendengarkan lagu-lagu tersebut. Ayah saya memang punya banyak CD lagu-lagu lawas di rumah. Tak hanya lagu-lagu lama, lagu anak-anak ABG zaman sekarang pun saya suka. Salahkan adik bungsu saya yang mentransfer satu folder lagu Justin Bieber ke notebook saya (inget saya cuma suka denger lagunya, bukan penggemar penyanyinya *excuse ;p).

Ya, tak usah heranlah kapanpun lagu itu pertama kali keluar, selama enak didengar dan cocok dengan selera masing-masing, akan ada orang-orang yang menyukainya walau dia mungkin belum lahir saat lagu itu pertama kali keluar atau bahkan dianggap terlalu tua untuk mendengarnya. Buktinya, banyak lagu zaman dulu yang di-recycle dan dinyanyikan ulang bukan? Buktinya, ada sekian banyak orang di luar sana yang seperti ayah saya dan Bu Susi. Mendengar musik memang tak pandang usia, musik untuk semua generasi.








NoteGuestbook
   
nizhenhao wrote on Apr 28


Of all the tablets launched in the iPad’s wake, the Kindle Fire has fared the best, thanks to its low $199 price and easy access to Amazon’s vast collection of books,Monster Beats
movies and music. But with chunky hardware and sluggish software, the Fire itself is no great shakes.
At $249, the Galaxy Tab 2 is $50 more expensive. But you get your money’s worth in features missing from the Fire, including front and rear-facing cameras and a remote-control zapper for your home-entertainment gear. There’s also a more elegant design and more-up-to-date software.
The Galaxy, like the Kindle,heartbeats Lady Gaga
operates only over a Wi-Fi Internet connection. Both are based on Google’s Android operating system. But while the Kindle runs a heavily modified version that requires you to get apps only from Amazon, the Samsung uses the latest tablet-friendly flavor, known as “Ice Cream Sandwich,” that allows apps from multiple sources.
alkarenoy wrote on Sep 3, '11
Halo...salam kenal winnie :)
suaracahaya wrote on May 24, '11
berkunjung lagi~ :)
bungaoktora wrote on Feb 12, '11
karin :)
suaracahaya wrote on Oct 21, '10
karena.. yg lebih sering update itu yg Tumblr dan Livejournal kar.. just as I write on the Halaman Pembuka (yg paling atas) ^^
alvast wrote on Feb 17, '10
karin, mohon bantuannya dunk plisssssssss....silahkan klik disini
alkarenoy wrote on Feb 13, '10
akhirnya dc ngunjungin blog-nya teteh,hehe ^-^ smangat teh!baguus =D
fatimaaulia wrote on Nov 25, '09
aku cukup dipanggil aulia..aul juga boleeeh:)
fatimaaulia wrote on Nov 17, '09
salam kenal..
manggilnya apa nih? kariiin ya?
iyaaa aku kenal dong sama upi ma diyot. kok karin kenal?
angkatan brp skg? dah koass bloomm?:)
alkarenoy wrote on Aug 4, '09
Thanks nur for visiting...sejujurnya belum menghasilkan puisi lagi sejak akhir tingkat I hehe, inspirasinya hilang sih...;p. Maybe one day i'll start again writing poem.
suaracahaya wrote on Jul 30, '09
Mmm.. baca blog ini kayak nemu sisi lain darimu yg ga pernah aku tahu - puisi, misalnya ^^
Just keep writing, Kar... :)
suaracahaya wrote on Jul 30, '09
assalamualaikum! :D
ternyata memang ada ya...hehehe.
theme-nya warna-warni banget, kawaii ^^
Pages:12345